Jumat, 06 Januari 2012

Refleksi ke-5 dan -6

Kelompok  9 “ Ekosistem”

      Berdasarkan hasil diskusi  kelompok ini dapat diketagui bahwa “Ekosistem merupakan satu kesatuan komunitas dengan lingkungan abiotiknya. Sedangkan struktur dalam ekosistem diantaranya :
1.     Komponen biotic
2.    Komponen abiotik
3.      Produsen : penghasil
4.    Konsumen : pemakan
5.     Decomposer : pengurai
6.    Dan aliran energy

Sumber utama energi bagi kehidupan yaitu cahaya matahari. Energy cahaya matahari ini dapat diuabah oleh opganisme autotrof yang kemudian diubah oleh opganisme heterotrof dalam bentuk senyawa-senyawa organik dalam makanannya yang akan dikeluarkan dalam bentuk panas. Sedangkan diagram yang dapat menggambarkan hubungan antara tingkat trofik satu dengan tingkat trofik lain, secara kuantitatif pada suatu ekosistem disebut piramida ekologi. Piramida ini dibagi menjadi :
  1.  Piramida energy : menggambarkan hilangnya energy pada saat perpindahan energi 
  2.  Piramida biomassa : mengggambarkan berkurangnya transfer energy pada setiap trofik di dalam ekosistem 
  3. Piramida jumlah: menggambarkan jumlah individu pada setiap tingkat trofik dalam suatu ekosistem
Adapun laju produksi mahkluk hidup dalam ekosistem disebut produktifitas. Selain itu, menurut kelompok ini adanya petir itu tidak terjadi reaksi dengan nitrogen bebas atau senyawa lain akan tetapi terjadinya petir itu dibantu oleh reaksi dengan senyawa hydrogen. Hal ini dipaparkan karena adanya pertanyaan dari salah satu audiens pada saat diskusi berlangsung.

Kelompok 10 “ Ekosistem Darat”

            Menurut pernyataan kelompok ini mengenai ekosistem yaitu komunitas organik hewan, tumbuhan, dab organisme serta lingkunngannya. Komponen yang termasuk didalamnya yaitu komponen abiotik dab biotik. Untuk ekosistem darat ayng dibahas oleh kelompok ini antara lain :
1.    Hutan Hujan Tropis, yaitu hutan yang memiliki temperatur 25°c dengan perbedaan temperatur kecil di sepanjang tahunnya dan rata-rata kelembaban udaranya 80%. Pada hutan ini terdapat 3 zona yaitu ;
a.    Zona 1 ( hutan hujan yang terletak pada ketinggian 0-1000m dpl)
b.    Zona 2 (hutan hujan yang terletak pada ketinggian 1000.3.300dpl)
c.    Zona 3 (hutan hujan yang terletak pada ketinggian 3.300-4.100dpl)
2.    Hutan Musiman Tropis, hutan ini memiliki ciri tumbuhan yang ada membentuk formasi musiman dan pada saat musim kemarau tumbuhan yang ada menggugurkan daunnya, sedangkan pada musim penghujan daunnya lebat.
3.    Hutan Gugur Imperata, hutan yang ada hampir di semua bagian Eropa.
4.    Hutan Taiga, yaitu pegunungan yang terdapat di daerah tropic.
5.  Hutan Kaya Elfin, hutan yang terdapat pada ketinggian diatas 5.000m dpl (diatas permukaan laut)
6.  Hutan Boreal, hutan yang tumbuh di region dingin/sejuk dengan curah hujan 375-500mm/tahunnya.
7.    Hutan Tundra (daerah terbuka), merupakan penggambaran vegetasi tanpa adanya pohon-pohon dan yang Nampak adanya padang rumput yang terbentang luas.
8.    Hutan Savana, hamparan rumput yang luas sebagai tempat organisme berinteraksi.
9.    Hutan Alpin, hutan yang terletak pada daerah ± 5.000 dpl. Hutan ini terbagi dalam 3 sub hutan yaitu, Hutan Sub Alpin, Padang Rumput Alpin, dan Padang Sawah Alpin.
10. Padang Pasir dan Padang Rumput

Selain itu, juga dapat di informasikan bahwa daerah penntebaran “Zona Kering” yaitu di daerah Eurasia yaitu, terletak pada daerah Negara-negara timur tengah dan Negara-negara seperti halnya Pakistan, Afganistan dan Negara-negara yang suhu udaranya sangat panas. Pada Negara-negara tersebut, jikan terjadi hujan sangat lebat dan bisa mengakibatkan banjir karena vegetasinya kurang. Untuk Negara Yimur Tengah yang kemungkina jarang mengalami banjir yaitu bagian Negara yang memiliki Oase.

Perbedaan antara Hutan Hujan Tropis dan Hutan Konifer yaitu terletak pada faktor cahaya matahari yang menyinari. Pada Hutan Hujan Tropis keanekaragaman hayatinya sangat banyak, namun tidak semuanya hutan berkayu. Sedangkan Hutan Konifer merupakan penghasil kayu terbesar karena spesiesnya sangat seragam dan merupakan hutan berkayu.
          Inilah yang dapat disimpulkan dari 2 kelompok tersebut.  

Kelompok 11 “Ekosistem Akuatik”

            Mengenai Ekosistem Akuatik yang dibahas oleh kelompok ini diantaranya ; Hutan Pantai, Rawa, Mangrove. Ekosistem Air Tawar, laut dan Pantai dan sebagainya.
*      Hutan Pantai yaitu hutan yang menyebar di sekitar pantai dengan salah satu cirinya tidak dipengaruhi oleh iklim.
*      Rawa, yaitu ekosistem yang terdapat pada genangan air.
*     Mangrove, tipe hutan tropika yang khas tumbuh di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
*      Ekosistem Air Tawar, dimana ekosistem ini berada di daerah air tawar dan dipengaruhi oleh iklim, biasanya jenis spesies yang hidup yaitu cporozoa dan sejenisnya. Ekosistem ini ada 2 macam, yaitu : Ekosistem Air Lentik (airnya tidak berarus), contohnya : Danau Toba; dan Ekosistem Air Lotik (airnya berarus), contohnya : sungai.
*      Ekosistem Pantai, merupakan ekosistem yang tidak dipengaruhi oleh iklim dan suhu.

Berhubungan dengan ekkosistem pantai ini ada juga ekosistem Pantai Pelagis yakni laut yang memiliki biota-biota pada lapisan atas airnya. Untuk perbedaan ekosistem pantai dan air tawar ini terletak pada pengaruh iklim terhadap ekosistem ini. Pada ekosistem air tawar dipengaruhi oleh iklim karena umumnya hewan yang hidup pada ekosistem ini berdarah dingin sehingga  dapat dipengaruhi oleh iklim. Sedangkan untuk ekosistem pantai, kadar garam yang ada sangat tinggi sehingga dapat dipengaruhi oleh iklim.

Kelompok 12 “ Suksesi ”

Hasil diskusi dari kelompok ini (kelompok saya sendiri), yaitu sebagai berikut :
Mengenai pengertian suksesi sendiri merupakan hal yang komplek dari suatu proses perubahan ekosistem  tidak seimbang menuju tahap keadaan seimbang. Urutan terjadinya suksesi ini meliputi :
Lumut kerak——lumut kerak berdaun——–lumut ——— rumput-rumputan (herbaceus) ——— semak-semak (shrubs) ——- pohon-pohonan.

Dalam proses suksesi ini dapat terjadi dengan bantuan tangan manusia baik dalam tahap penyebab kerusakannya maupun dalam pengembalian suksesi tersebut.kecepatan suatu suksesi ini dapat dipengaruhi oleh Luas komunitas asal yang rusak karena gangguan. Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di sekitar komunitas yang terganggu. Kehadiran pemencar benih. Iklim, terutama arah dan kecepatan angina yang membantu penyebaran biji, sporam dan benih serta curah hujan. Jenis substrat baru yang terbentuk, dan Sifat – sifat jenis tumbuhan yang ada di sekitar tempat terjadinya suksesi. Penyebab kerusaka lahan hutan bisa secara alami (misalnya, letusan gunung berapi dansebagainya) atau dengan campur tangan manusia (misalnya, pembakaran hutan secara sengaja). Adapun penyebab terjadinya suksesi diantaranya, iklim, biografi dan topografi.
Tipe suksesi yaitu ; Hidrosere (tipe suksesi yang berkembang di daerah air tawar), Halosere (tipe suksesi di daerah tanah bergaram atau air asin), dan Xerosere (tipe sulsesi di daerah kering seperti halnya di gurun pasir).
Adapun tahapan untuk suksesi ini meliputi :
1.     Fase Permulaan
2.    Fase Awal / muda
3.    Fase Dewasa
4.    Fase Klimaks

Dalam proses suksesi ini manusia bisa mempercepat dalam pemulihan lahan yang rusak. Hal tersebut bisa dengan penyebaran benih atau penanaman benih tanpa mengurangi dari tahapan suksesi di atas karena dalam penanaman benih itu sudah ada peranan lumut kerak yang membantu kesuburan tanaman yang ditanam. Peranan lumut kerak dalam proses ini yaitu mereformasi struktur-struktur batuan sehingga dapat ditumbuhi organism lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Pages

About

Recent comments

© Copyright 2011 Biologi Be Excellent Template design by sarju
Diberdayakan oleh Blogger.